Suasana Di Desaku

Sekitar bulan desember lalu (udah lama ya), saya pergi ke kampung halaman karena kebetulan saat itu Hari Raya Galungan (salah satu hari besar bagi umat Hindu) . Setelah melakukan aktifitas – aktifitas yang biasanya dilaksanakan untuk merayakan Galungan, seperti buat lawar, sate, dll. Saya pergi ke “teba” dibaca “tebe” kalau dalam istilah balinya, kalo di indonesiakan mungkin seperti Kebun, iya kebun sepertinya pas.

Nah kebun saya ini terletak sedikit jauh dari rumah di kampung, sekitar mungkin 1 – 2KM jadi kalau jalan kaki lumayan buat olahraga, tapi kalau siang hari lumayan juga buat menghitamkan kulit. Karena saya males, yah naik motor aja deh *jangandicontoh.

Kampung saya ini suasananya 50:50 yang artinya masih sedikit suasana pedesaan, namun ada sedikit suasana modernnya. Oh iya hampir lupa kampungku ini terletak di desa Penarungan, kecamatan Mengwi kabupaten Badung (bukan bandung ya, beda sedikit aja) provinsi Bali Negara Kesatuan Republik Indonesia (biar lengkap).

Disini kakekku dulu pernah tinggal, karena beliau suka berkebun ya tinggalnya disini, bukan dirumahnya, pulang hanya ketika ada urusan atau upacara agama. Namun ketika beliau sudah pergi dari dunia ini; dibaca meninggal :(, keadaan pondok/ gubug/ rumah yang dulu ditempati sudah tentu tak terawat lagi. Dan akhirnya seperti dibawah ini. Ini dahulu adalah sebuah dapur, sekarang mungkin sama sekali tak terlihat seperti dapur.

Dapur Desaku

Oke selanjutnya saya ingin memperlihatkan sumurnya, seperti dibawah inilah sumurnya, yang kedalamannya mungkin sekitar 2 – 3 meter, dangkal bukan? tapi airnya sepanjang saya ketahui dan saya lihat, belum pernah kering tuh. Hebat bukan? cobak kalau dikota saya jamin 99% gak bakal ada airnya :v. Malah mungkin bisa dijadikan tempat pembuangan sampah.

Sumur Desa

Nah selanjutnya ada sebuah pelinggih, pelinggih merupakan salah satu bentuk dari tempat suci bagi kami umat Hindu di Bali. Dibelakangnya pelinggih tersebut terdapat kolam (dahulu kolam ikan), karena tidak terurus, cuma tersisa lumpur saja, kalau mau mandi sih bisa, mandi lumpur jadinya :v.

Pelinggih Hindu

Kalau saya ke kebun, saya cukup sering untuk mencari sebuah atau beberapa kelapa muda, yuk kita cari kelapa muda, sekalian cari daun muda juga, eitss jangan ngeres apalagi yang jomblo :v. Nih tak kasik kelapa mudanya, tapi kulitnya aja ya :v Silahkan disantap, semoga giginya tidak keropos :v. Walaupun saya sering mencari kelapa muda, sesungguhnya saya ini bukanlah ahli dalam ngupas mengupas kelapa, biasanya saya mintak seseorang untuk mengupasnya, ntah Bapak atau Kakek saya sebelum beliau meninggal. Saya cuma ahli dalam hal menghabisi isinya bukan kulitnya :).

Kulit Kelapa MudaKarena hari sudah siang dan agak panas, selanjutnya mari kita menuju sebuah sungai, kita cari yang segar – segar walaupun sebelumnya sudah segar menyantap daun muda, eh kelapa muda maksudnya.

Mendaki gunung, lewati lembah srrett yah saya terpeleset ketika melewati jembatan bambu untuk menuju ke sebuah sungai, untung celana gak sampek robek cuma sampek kotor kena tanah yang basah habis kena hujan. Liat gak bekas sandalku?

Jembatan Bambu

Setelah melewat rintangan yang mungkin cukup mudah, akhirnya sampai disungai, airnya agak sedikit keruh sih, gimana lagi orang musim hujan, yah setidaknya bukan bercampur dengan limbah – limbah seperti dikota :v. Yosh kita eksekusi airnya segera (bukan dipenggal).

Sungai PedesaanSekian yang dapat saya ceritakan tentang sebuah desa terpencil di Bali. Karena sehabis dari sungai saya langsung menuju rumah di kampung. Semoga sedikit menghibur dengan tulisan ini. Terimakasih.

  • Fanny Fristhika Nila

    jadi kangen ama kampung di sibolga abis baca ini 🙂 Udh lama ga pulang kampung… jakarta-sibolga lumayan jauh dan mihil soalnya ;p Tapi untungnya kampung suami di solo, rada deketan..msh bisalah ngerasain suasana pulang kampung jdnya ;p

    • sibolga itu Sumut ya? wih jauh amat ya..
      mumpung masih bisa, nikmatin aja, sebelum kampung suaminya jadi suasana kota…

      • Fanny Fristhika Nila

        iya di tapanuli tengah tepatnya :D…

        Nah itu dia…. solo aja udh ga bisa dibilang kampung..lah udh maju bgitu, mirip kota… macetnya sama ;p

        • kalo sibolga masih suasana desa nggak mbak?
          kalo masih berarti enakan kesana untuk refreshingnya 🙂